lingkaran
…nanti lanjut lagi.
hhhmmmhh…hari ini terawali dengan menarik nafas panjang. mengatupkan kelopak adalah rencana saya selanjutnya.
alhamdulillah.
udah mas…
ada yang menekan dadaku siang ini…kuat sekali. menyesak.
aku duduk teralas plastik hitam. kaku. ngilu.
lalu suara² yang berdengaran…rasanya lebih tepat untuk diabaikan. riuh.
ada yang mendayu-dayu, ada yang seperti getaran besi yang terbaut longgar.
hanya satu tenggorokan yang tak terabai, dia bilang “mas print mas…”
Lintang Tyaga
gerimis kali ini tidak memberi sedikitpun celahnya untuk bintang. hari ini senja
berwarna abu² dan menagis.
mustahil bagi saya menjemput
bintang, menyibak basahnya
mendung.
biarlah saya tunggu sampai langit
benar-benar kering.
lalu menunggu lagi kehadiran
…cahayaNya…
menunggu bintang…
pemberian Tuhan…
Lintang Tyaga. we’ll wait.
mengenai gumunan
“ojo gumunan”
dua kata itu ternyata melekat kuat di benak bawah sadar saya, tanpa saya sadari. hingga saya selalu menanggap segala sesuatu itu memang ada bukan karena kebetulan, memang sudah digariskan. itulah konsep yang selama ini saya anggap benar, dan memang ada dasarnya.
yang menjadi masalah bagi saya disini adalah bukan soal benar atau salah.konsep yang saya yakini itu. tapi lebih ke dampak dari konsep itu kepada saya. bagaimanapun luar biasanya suatu kejadian, kalo konsep diatas itu tertanam dengan kuat, maka akan menjadi tawar. nah ini yang rasa²nya sedang menjangkiti saya. pada suatu ketika dimana saya seharusnya bisa berucap “alhamdulilah”, “subhanalloh”, “astaghfirullah” dll…saya malah melakukan aksi diam. karena hal² itu memang sudah semestinya seperti itu (kalo menurut konsep “ojo gumunan”).
lalu sejauh mana konsep “ojo gumunan” ini harus saya aplikasikan? masih saya kaji ulang, bagaimana seharusnya saya meng-apply-nya. karena saya lebih khawatir terhadap pola pikir saya yang membuat semuanya menjadi “tawar”. saya khawatir kalo hidup saya akan serasa monoton, padahal hidup saya dikelilingi berjuta dinamika.
ini semua soal porsi, sebaik apapun sesuatu hal kalo hadir dalam porsi yang berlebihan malah akan merusak keseimbangan.
saya bilang, “ndak iyo?”
pada suatu ketika ada seorang bertanya kepada Abu Bakar Assiddiq Radhiallahu ‘anhu, “wahai shahabi, bagaimana anda dapat mengena Robbmu?” Abu Bakar menjawab, “Aku mengenal Robbku dengan perantaraan Robbku. Kalau tidak karena Robbku, aku tidak akan mungkin mengenal-Nya.”
Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana Anda mengenal Robbmu?” Abu Bakar menjawab, “apa yang tidak mampu dicapai adalah suatu pencapaian, dan meneliti zat Allah adalah kemusyrikan.”
===sekali lagi ke-ble’e-an saya terbukti mampu menutupi sebuah pelajaran berharga. bahwa segala sesuatu telah digariskan adalah benar, saya yakin itu. termasuk dalam hal ini mengenal-Nya. maksud saya disini adalah bahwa mengenal Tuhan merupakan hak prerogatif Tuhan, dimana Tuhan berhak memilih manusia mana yang dikehendaki-Nya untuk mengenal-Nya. bahwa Tuhan itu Maha Mengabulkan Do’a adalah benar, saya juga yakin itu. lalu berdasarkan apa yang saya ketahui, sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, apa yang tertanam dalam alam bawah sadar manusia sebenarnya adalah keinginan manusia (do’a -red). kesimpulannya, kalo manusia itu memang ingin mengenal Tuhannya, secara sungguh²…amat sangat ingin mengenal-Nya, dari hati, maka saya yakin manusia akan mengenal-Nya. karena itu adalah keinginannya, do’anya, kepada Tuhan yang Maha Mengabulkan.
maka jika sampa saat ini manusia itu ngga kenal sama Tuhannya, sesungguhnya karena manusia itu sendiri yang tidak menginginkannya. mungkin pengen, tapi amat jelas kalo keinginan itu belum dari hatinya.
===lha yang kedua itu yang bikin saya makin mantap dengan ke-ble’a-an saya, maksud dari “apa yang tidak mampu dicapai adalah suatu pencapaian”…tak pikir² suwi, yo tetep ora nyandhak…
yawis -lah, menunggu seseorang yang lebih bisa ngerti wae…sambil tetep mikir tentunya…
sebuah pergeseran se-inchi dalam lempeng hati yang terjadi berkali-kali…bukan karena rotasi konstan runtinitas bumi…lebih karena gesekan pada semua indera yang melekat pada raga, sungguh telah membuat emosi berpelantinagan kesana-kemari…wiii…
biarkan saya belajar menikmatinya…membuatnya menjadi lebih nyaman…seperti roller coaster, dimana saya bisa tertawa setelah berteriak ngeri…
saya akan mengendalikan grafitasi saya sendiri…
saya memang belom memanfaatkan fasilitas search engine seperti google atau yahoo search…tapi setelah saya melakukan pencarian secara manual selama lebih kurang satu minggu dan tidak berhasil menemukannya, maka saya berani menyatakan bahwa HaPe saya ilang…i-l-a-n-g…
untuk sementara, jika saurada-saudara sekalian ada keperluan dengan saya silakan menghubungi nomor telefon rumah orang tua saya…secara saya masih hidup menumpang…
demikian…harap maklum…terima kasih…
berharap bahwa orang lain akan mengatakan apa yang ingin kita dengar
adalah suatu keinginan yang rasa-rasanya akan sangat sulit
terwujud…fakta bahwa orang juga sering mengatakan apa yang tidak
ingin -jangankan orang lain- dirinya dengar…aliasnya salah ucap…
"o.k…o.k…gue emang salah, tapi kalo caranya ngomong kayak gitu
gue tetep gak bisa terima…sampai kapanpun…!!!"
bahwa kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah berpotensi
membuat saya bersikeras menunda hati saya untuk menerima sebuah
kebenaran…celakalah saya, dan kebanyakan orang yang sekualitas
saya…:D
sialnya…kebanyakan orang saat ini cenderung bertindak
sekehendak…asal (merasa) benar, boleh menyalahkan yang lain…ini
mungkin penyakit menular, mungkin juga penyakit keturunan…dan ini
terjadi pada adi, anak saya…"ayo di…maen bola lagi…"
dan sialnya lagi…sayapun ketika merasa benar, mulut ini rasanya
pengen berkhotbah kepada setiap makhluk yang tampak salah…kurang
inilah, kurang itulah, kurang anulah…pokoknya kalo saya benar,
lebih² ada orang yang membenarkan saya…waaaa…jangan harap anda
selamat…!!!
saya pikir itu akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup
saudara² sebangsa dan setanah warisan…sebuah pemacu
kacauisme…padahal kalau saya mau sedikit saja, saya ulangi
sedikiiiit saja, saya mau mikir…kebenaran yang disampaikan dalam
suatu ketidakenakan, memiliki kadar manfaat yang sama dengan
kebenaran yang disampaikan dengan enak/baik…karena keduanya sama²
benar…trus, perbedaan diantara keduanya adalah masalah enak/baik
dan tidak enak/baik…yang sesungguhnya adalah pelajaran…
kebenaran yang disampaikan dengan cara yang enak/baik, mengajarkan
kepada kita untuk melakukan yang serupa itu…sedangkan kebenaran
yang disampaikan dengan cara tidak enak/baik, mengajarkan bahwa
hidup itu tak selalu berisi hal² yang diinginkan…bahwa manusia
memang harus sesekali merasakan ketidakenakan, bahwa tidak semua hal
yang tidak disukai manusia adalah hal yang buruk…bahwa manusia
tidak akan selalu diperlakukan dengan amat menyenangkan…dan kenyataan bahwa pertanyaan "emang lo pikir lo siapa?" menjadi kian populer…semuanya itu menegaskan bahwa manusia memang dikelilingi oleh ketikaenakan yang luar biasa banyaknya…
"sesungguhnya kebenaran ingin selalu mengunjungi hati…mungkin
pintu hati yang tertutup terlalu rapat hingga kebenaran harus
bersusah payah mengetuknya, mencongkelnya atau malah
mendobraknya…terserah si empunya hati saja"
mereka yang (pernah) memanggil saya mynche (I)
kali pertama, sakit hati…lebih-lebih panggilan itu diproklamirkan pertama kali oleh seorang yang ternyata masih adik angkatan saya…bram…"awas lo bram..!!! gw do’ain lo kaya raya, usaha lancar, istri cantik, tambah tebel imannya, dermawan, brenti ngrokok kayak gw…trus gw do’ain jg kita ketemu di kucingan Pak No, trus dengan serta merta lo modalin gw bikin rumah sakit prasmanan yang bukanya 23:59:59 sehari…amien…"
lanjut…dalam tempo kurang dari 2 x 24 jam, nama panggilan itu udah menjangkiti beberapa orang…Pak No kucingan bintang malam…"nyuwun pangapunten Om, kala wingi mboten sios mundhut rokoke…dalem kemutan garwa, qouta rokok dalam sehari namung 3 batang…mboten kados riyin, sehari 3 kontainer…halah..."
selanjutnya giliran para punggawa QNet satu persatu mengikuti jejak Pak Kucing…Bancet, "Cet yang tabah ye…gmana kabar lo sekarang, masih menanti revolusi diri?"…trus Idho mulai ikut²an, "hayooo lo…masih ngutang sebungkus Dji Sam Soe ama gw, jangan harap gw bisa lupa Dho…gara² kita taruhan siapa paling lama brenti ngrokok sekarang gw brenti ngrokok beneran kayaknya, amien dah…tapi utang tetep utang bro, gw ga bakal lupa, tapi gw juga ga akan nagih…asal lo bisa lulus, gw anggep utang lo lunas…(pusing…pusing dah)"
mbak Peni, "mbak makannya perlu dikurangin tu, biar ndut…gmana kemaren ujiane, bisa? eh…mbak ditanyain sama Mas-nya cakra yang selalu ber’waduh‘ dengan kehadiran sosok manusia² QNet…"
mbak Dewi, "mbak…boleh nitip nuker duwit ngga?"
lalu ada Abud yang tidak pernah lupa membubuhkan tambahan kata ‘halah’ setiap menyebut saya dengan istilah ‘mynche’, tentu saja diiringi senyuman khasnya sambil menatap saya dengan sungkan…entah bagaimana dia sekarang…"gimana skripsi pak (mantan) Presiden?"
hmmm…
dan, ah…menular ke buket juga…shandy yang masih saja ‘ngoment’ hanya dengan dua huruf, e dan ha…babay nyang makin ndut…ndut dan ndut…
ah mynche…m-y-n-c-h-e…crooooot!!!!
saya ndak suka je…tapi apalah itu, ternyata panggilan ini nyaman² saja keluar dari bibir mereka…"apalah arti sebuah nama", begitu kata Shakespeare (bener ga ya…??)…tapi bagi saya nama itu penting, ia adalah identitas, pembeda antara yang satu dengan yang lain…dan bagi saya, nama ‘mynche‘ ini ternyata melatih saya mengelola sakit hati dan menjadi barometer kesabaran saya. lalu…
bersambung ah…biar kayak sinetron
8 meter ikhlas
berhenti dari merokok, bagi saya adalah penderitaan…lebih² ia telah membantu saya mengurangi ketegangan, menjadi penghibur dalam kejenuhan…menjadi ‘pemanis’ acara ngobrol dengan teman²…
saya tak hendak membela diri dari bahaya kebiasaan merokok, tapi itulah yang saya rasakan…merokok itu sama saja menyulut penyakit…sekarang mungkin tidak terasa efek-nya, tapi lama-kelamaan akan sangat akut dampaknya…bahkan menyebabkan kematian…lalu saya membela diri, "kan masih lama-kelamaan, toh siapa yang tahu umur kita seberapa panjang…bisa saja kita mati besok, walopun hari ini kita tidak merokok" (membela diri mode : on)
meskipun (setahu istri saya) saya sudah tidak merokok, tapi sampe saat ini saya masih belum bisa menemukan pengganti dari ‘nikmat’nya merokok…belum saya temukan aktipitas yang bisa menggantikan ’seru’-nya menimbun penyakit ini (merokok -red), lebih² saat sore hari…
berbagai cara telah saya lakukan untuk ‘membahagiakan istri’ saya (baca: berhenti merokok)…ada yang menyarankan untuk ngunyah permen ketika kebelet merokok, tapi tetep aja nggaa ngaruh…lalu saya mencoba untuk nyabutin bulu hidung biar ngga kepengen merokok, eee malah yang ada lobang hidung saya mengalami kebotakan dini…saya juga nyoba berkumpul dengan orang² yang tidak merokok dengan harapan bisa ketularan tidak merokok…tapi ngga taunya malah menjadi-jadi keinginan saya untuk ngerokok, karena salah satu temen ngumpul saya ada yang rambutnya mirip banget sama tembakau…sial.
hingga pada suatu ketika, saya bisa merasakan sesuatu sensasi luar biasa yang kenikmatannya melebihi menghisap rokok…yaitu bersedekah. hanya dengan memberikan sedikit rupiah kepada seorang bapak pengemis renta, saya sudah merasa sebagai orang yang paling dermawan se-dunia…beneran…saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika itu…lalu saya merasa yakin bahwa inilah cara saya menghentikan kebiasaan saya merokok…seketika saya berpikir "oh berarti kalo nanti saya mulai kebelet merokok, maka saya harus cepat² mencari target/sasaran untuk saya bersedekah…"
lalu sambil tersenyum lebar dan memandang punggung bapak pengemis renta itu, hati saya bilang begini "wah…kalo bisa selalu begini saya depat dua keuntungan, bisa berhanti dari merokok sekaligus beramal…karena bapak telah membantu saya menemukan jalan keluar saya, maka besok² saya akan memberikan rupiah lebih kepada bapak…saya janji pak…"
kemudian sang bapak pengemis ini berhenti setelah berjalan kira² 8 meter dari rumah saya…lalu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya…daaan…ia menyulutnya…menghisap dalam² dan menghembuskannya dengan nikmat sekali…sial!!!
dengan kualitas saya yang sekarang, ternyata hanya sanggup menahan ikhlas sejauh 8 meter saja, lalu saya bilang "maaf pak…perjanjian batal…"
